Selasa, 22 Juli 2008

A BEGINNERS GUIDE TO Hacking Unix

ON IBM PC'S AND OFFER THE SAME FUNCTION
(JUST 2 DIFFERENT VENDORS).

NOTE: DUE TO THE MANY DIFFERENT
VERSIONS OF UNIX (BERKLEY UNIX,
BELL SYSTEM III, AND SYSTEM V
THE MOST POPULAR) MANY COMMANDS
FOLLOWING MAY/MAY NOT WORK. I HAVE
WRITTEN THEM IN SYSTEM V ROUTINES.
UNIX/XENIX OPERATING SYSTEMS WILL
BE CONSIDERED IDENTICAL SYSTEMS BELOW.

HOW TO TELL IF/IF NOT YOU ARE ON A
UNIX SYSTEM: UNIX SYSTEMS ARE QUITE
COMMON SYSTEMS ACROSS THE COUNTRY.
THEIR SECURITY APPEARS AS SUCH:

LOGIN; (OR LOGIN;)
PASSWORD:

WHEN HACKING ON A UNIX SYSTEM IT IS
BEST TO USE LOWERCASE BECAUSE THE UNIX
SYSTEM COMMANDS ARE ALL DONE IN LOWER-
CASE.
LOGIN; IS A 1-8 CHARACTER FIELD. IT IS
USUALLY THE NAME (I.E. JOE OR FRED)
OF THE USER, OR INITIALS (I.E. J.JONES
OR F.WILSON). HINTS FOR LOGIN NAMES
CAN BE FOUND TRASHING THE LOCATION OF
THE DIAL-UP (USE YOUR CN/A TO FIND
WHERE THE COMPUTER IS).
PASSWORD: IS A 1-8 CHARACTER PASSWORD
ASSIGNED BY THE SYSOP OR CHOSEN BY THE
USER.
COMMON DEFAULT LOGINS
--------------------------
LOGIN; PASSWORD:
ROOT ROOT,SYSTEM,ETC..
SYS SYS,SYSTEM
DAEMON DAEMON
UUCP UUCP
TTY TTY
TEST TEST
UNIX UNIX
BIN BIN
ADM ADM
WHO WHO
LEARN LEARN
UUHOST UUHOST
NUUCP NUUCP

IF YOU GUESS A LGIN NAME AND YOU ARE
NOT ASKED FOR A PASSWORD, AND HAVE
ACCESSED TO THE SYSTEM, THEN YOU HAVE
WHAT IS KNOWN AS A NON-GIFTED ACCOUNT.
IF YOU GUESS A CORRECT LOGIN AND PASS-
WORD, THEN YOU HAVE A USER ACCOUNT.
AND, IF YOU GUESS THE ROOT PASSWORD,
THEN YOU HAVE A "SUPER-USER" ACCOUNT.
ALL UNIX SYSTEMS HAVE THE FOLLOWING
INSTALLED TO THEIR SYSTEM:
ROOT, SYS, BIN, DAEMON, UUCP, ADM
ONCE YOU ARE IN THE SYSTEM, YOU WILL
GET A PROMPT. COMMON PROMPTS ARE:

$
%
#

BUT CAN BE JUST ABOUT ANYTHING THE
SYSOP OR USER WANTS IT TO BE.

THINGS TO DO WHEN YOU ARE IN: SOME
OF THE COMMANDS THAT YOU MAY WANT TO
TRY FOLLOW BELOW:

WHO IS ON (SHOWS WHO IS CURRENTLY
LOGGED ON THE SYSTEM.)
WRITE NAME (NAME IS THE PERSON YOU
WISH TO CHAT WITH)
TO EXIT CHAT MODE TRY CTRL-D.
EOT=END OF TRANSFER.
LS -A (LIST ALL FILES IN CURRENT
DIRECTORY.)
DU -A (CHECKS AMOUNT OF MEMORY
YOUR FILES USE;DISK USAGE)
CD\NAME (NAME IS THE NAME OF THE
SUB-DIRECTORY YOU CHOOSE)
CD\ (BRINGS YOUR HOME DIRECTORY
TO CURRENT USE)
CAT NAME (NAME IS A FILENAME EITHER
A PROGRAM OR DOCUMENTATION
YOUR USERNAME HAS WRITTEN)
MOST UNIX PROGRAMS ARE WRITTEN
IN THE C LANGUAGE OR PASCAL
SINCE UNIX IS A PROGRAMMERS'
ENVIRONMENT.
ONE OF THE FIRST THINGS DONE ON THE
SYSTEM IS PRINT UP OR CAPTURE (IN A
BUFFER) THE FILE CONTAINING ALL USER
NAMES AND ACCOUNTS. THIS CAN BE DONE
BY DOING THE FOLLOWING COMMAND:

CAT /ETC/PASSWD

IF YOU ARE SUCCESSFUL YOU WILL A LIST
OF ALL ACCOUNTS ON THE SYSTEM. IT
SHOULD LOOK LIKE THIS:

ROOT:HVNSDCF:0:0:ROOT DIR:/:
JOE:MAJDNFD:1:1:JOE COOL:/BIN:/BIN/JOE
HAL::1:2:HAL SMITH:/BIN:/BIN/HAL

THE "ROOT" LINE TELLS THE FOLLOWING
INFO :
LOGIN NAME=ROOT
HVNSDCF = ENCRYPTED PASSWORD
0 = USER GROUP NUMBER
0 = USER NUMBER
ROOT DIR = NAME OF USER
/ = ROOT DIRECTORY

IN THE JOE LOGIN, THE LAST PART
"/BIN/JOE " TELLS US WHICH DIRECTORY
IS HIS HOME DIRECTORY (JOE) IS.

IN THE "HAL" EXAMPLE THE LOGIN NAME IS
FOLLOWED BY 2 COLONS, THAT MEANS THAT
THERE IS NO PASSWORD NEEDED TO GET IN
USING HIS NAME.

CONCLUSION: I HOPE THAT THIS FILE
WILL HELP OTHER NOVICE UNIX HACKERS
OBTAIN ACCESS TO THE UNIX/XENIX
SYSTEMS THAT THEY MAY FIND. THERE IS
STILL WIDE GROWTH IN THE FUTURE OF
UNIX, SO I HOPE USERS WILL NOT ABUSE
ANY SYSTEMS (UNIX OR ANY OTHERS) THAT
THEY MAY HAPPEN ACROSS ON THEIR
JOURNEY ACROSS THE ELECTRONIC HIGHWAYS OF AMERICA. THERE IS MUCH MORE TO BE LEARNED ABOUT THE UNIX SYSTEM THAT I HAVE NOT COVERED. THEY MAY BE FOUND BY BUYING A BOOK ON THE UNIX SYSTEM (HOW I LEARNED) OR IN THE FUTURE I MAY WRITE A PART II TO THIS........ Downloaded from P-80 Systems......
Continue...

Minggu, 20 Juli 2008

Dampak Media Bagi Remaja

Para ahli komunikasi mengatakan, media massa sangat berpengaruh terhadap pembentukan realitas sosial. Komunikasi massa selalu mempunyai Dampak pada diri seseorang atau sekelompok orangakibat dari pesan yang disampaikan kepadanya. Dampak kognitif berhubungan dengan pemikiran, Dampak emosional berhubungan dengan perasaan (senang, sedih, marah, sinis dan sebagainya Dampak kognitif juga mencakup niat, tekad, upaya, dan usaha yang berkecenderungan diwujudkan menjadi suatu kegiatan. Media massa tidak hanya memiliki Dampak langsung terhadap individu, tetapi juga mempengaruhi kebudayaan dan pengetahuan kolektif serta nilai-nilai di dalam masyarakat. Media massa menghadirkan perangkat citra, gagasan dan evaluasi yang menjadi sumber bagi audience nya untuk memilih dan menjadikan acuan bagi pelakunya.

Hill dan Monks (1990) mengungkapkan bahwa remaja merupakan salah satu penilai yang penting terhadap badannya sendiri sebagai rangsang sosial. Bila ia mengerti bahwa badannya sendiri sebagai rangsang sosial. Bila ia mengerti bahwa badannya tadi menuruti persyaratannya, maka hal ini berakibat positif terhadap penialain dirinya. Bila ada penyimpangan-penyimpangan timbullah masalah-masalah yang berhubungan dengan penilaian diri dan sikap sosialnya.
Beranjak dari kondisi-kondisi diatas, remaja sering merasa kehilangan eksistensinya. Oleh karena itu, tidak heran kalau remaja tersebut berusaha mencari atau menunjukkan eksisensinya melalui bidang-bidang yang dikuasainya. Dalam pencapaian eksistensi diri ini, remaja tidak lepas dari pengaruh lingkungan sosialnya. Apablia ia berada di tengah-tengah lingkungan yang berpendidikan, ia cenderung mengambil suatu sikap atau tindakan dimana orang lain bisa melihat dirinya mampu dibidang akademis. Ia akan cenderung rajin belajar, memperkaya pengetahuan dari buku-buku yang tidak didapatkan di sekolah.

Umumnya, remaja lebih peka terhadap reaksi-reaksi lingkungan yang ada disekitarnya daripada sebelumnya. Baik itu dari media massa, televisi, film atau orang-orang disekitarnya dari media massa, televisi, film atau orang-orang disekitarnya. Informasi-informasi baru selalu menarik perhatiannya. Kecenderungan bereksperimen (coba-coba) juga cukup tinggi, karena memang remaja belum mempunyai pola atau konsep yang mantap tentang masa depannya. Semua yang baru ingin dicobanya. Kecenderungan ini lebih kuat lagi karena keadaan emosinya yang masih labil. Oleh karena itu, tidak heran kalau banyak remaja yang menurutkan emosinya. Yang ada dalam pikirannya hanya “pokoknya saya berhasil” “pokoknya saya mandiri” “pokoknya saya pengen punya pengalaman” dll. Dorongan-dorongan semacam itu tidak dibarengi dengan pertimbangan apakah hal ini cocok untuk dirinya, bagaimana seandainya kalau saya sudah benar-benar masuk kedalamnya dan pertimbangan jangka panjang lainnya.

Dalam kaitannya dengan tayangan iklan baik di televisi maupun majalah, yang banyak menawarkan produk-produk remaja, remaja akan mudah sekali untuk tertarik dan menjadi konsumtif demi penampilan mereka. Remaja putri akan menjadi lebih boros untuk membelanjakan uang sakunya untuk membeli parfume, bedak, lipgloss, dan lain-lain. Sedangkan remaja pria,akan membeli produk-produk mahal yang dapat menunjang penampilan dirinya didepan perempuan.

Gaya hidup yang ditawarkan dalam majalah remaja maupun dalam sinetronpun adalah gaya hidup hedonis sebagai remaja kota besar yang tertular dari gaya hidup Barat. Dan untuk menunjang gaya hidup itu, remaja didorong untuk mengkonsumsi barang-barang dengan merek-merek mancanegara yang harganya tidak murah. Mereka diajarkan untuk mengikuti perkembangan mode dunia, mulai dari fashion, gaya rambut, casting HP yang berganti-ganti, dan sebagainya. Melalui penyampaian gaya hidup mewah ini, remaja diajarkan untuk boros dan menjadi tidak kritis terhadap persoalan sosial yang terjadi di masyarakat.
Bagi remaja putri, mereka dididik untuk menjadi perempuan yang menarik penampilannya dengan merawat wajah dan tubuhnya, yang kelak jika ia dewasa nanti akan mendapatkan seorang suami yang mapan dan tampan. Dan jika ia menikah nanti akan menjadi istri yang disayang suami karena terus menerus merawat tubuhnya dan ibu yang bertanggungjawab karena ia berhasil mengurus seluruh domestik keluarga dari mulai dapur sampai mendidik anak-anak. Stereotype perempuan yang hanya menjadi pendamping dan obyek pelengkap laki-laki, akan terus menerus diinternalisasikan dan diwariskan kepada generasi muda melalui tayangan iklan dan sinetron yang bias gender.

Lebih jauh dampak nya bagi remaja, melalui adanya berita-berita di media cetak yang sarat akan kalimat-kalimat yang vulgar dan melecehkan perempuan, akan mengajarkan mereka nilai-nilai budaya patriarki yang hanya melihat perempuan sebagai objek seksualitas. Akibatnya sejak usia remaja, sudah tertanam dalam pandangan mereka jika perempuan menarik adalah perempuan yang agresif dan seksi. Bahkan lebih jauh lagi, dengan semakin mudahnya remaja mengakses VCD porno dan internet yang menampilkan gambar-gambar porno, akan membuat para remaja penasaran untuk mencobanya, melalui kehidupan Free Sex atau bahkan jika hasrat seksualnya tinggi, bisa sampai berani melakukan perkosaan.
(http://geblek.net/2004/12/16/dampak -media-bagi-remaja-perempuan/ )

Continue...

Jumat, 18 Juli 2008

Cara Cerdas Menyikapi Globalisasi

Sebagai seorang pembaca setia edisi online dari Harian Bali Post, penulis memperhatikan bahwa tidak sedikit artikel yang dimuat di Bali Post yang memojokkan kapitalisme dan globalisasi, sehingga seolah-olah semua yang datang dari luar adalah buruk dampak nya. Beberapa efek negatif globalisasi dan kapitalisme yang paling sering diulas adalah konsumerisme, pergaulan bebas, dan lunturnya nilai-nilai agama Hindu dan budaya Bali di kalangan anak muda. Pertanyaan yang berkecamuk di benak adalah, benarkah globalisasi dan kapitalisme itu hanya memiliki dampak negatif? Bagaimanakah caranya menyambut globalisasi dan meminimalisasi efek-efek yang tidak baik?

Globalisasi tidak hanya membawa gaya hidup Barat, akan tetapi juga menawarkan banyak kesempatan yang belum pernah ada sebelumnya. Contoh yang paling gampang adalah kesempatan untuk mengakses ilmu pengetahuan seluas-luasnya di internet. Pada akhir tahun 1995, penulis mengikuti kompetisi pemrograman untuk seleksi Tim Olimpiade Komputer Indonesia. Saat itu,belum menjamur seperti sekarang ini, sehingga penulis mengalami kesulitan untuk mendapatkan soal-soal latihan untuk kompetisi, selain dari buku-buku teks yang harganya mahal dan jumlahnya terbatas di Indonesia. Dengan terus bertambahnya jumlah warung internet. di Bali, peserta kompetisi yang sama dari Bali untuk tahun ini dapat melakukan latihan soal yang jauh lebih banyak daripada yang penulis lakukan sepuluh tahun silam. Masalahnya sekarang adalah kemampuan Bahasa Inggris dari generasi muda kita yang masih pas-pasan. Akibatnya, yang biasanya diakses di internet. adalah website porno dan fasilitas chat, dua hal yang tidak produktif dan bisa membuat penggunanya ketagihan. Yang salah bukanlah fasilitas internet. -nya, akan tetapi kegagalan kita menyelenggarakan pendidikan Bahasa Inggris.

Konsumerisme juga sering dituding sebagai gaya hidup yang sekarang kian popular di Bali. Mari kita ambil contoh sederhana. Kalau anda punya uang ratusan juta, apa yang akan anda lakukan dengan uang itu? Alternatif pertama adalah ditabung. Akan tetapi menyimpan uang di bank sekarang tidak aman, karena banyak bank yang tidak mampu mengelola dana nasabah dan akhirnya bangkrut. Selain itu, suku bunga tabungan juga tidak mampu bersaing dengan tingkat inflasi yang tinggi, sehingga pada akhirnya hasil tabungan juga tidak menutupi kerugian akibat inflasi. Alternatif kedua adalah dengan membiakkan uang dengan investasi. Kesulitan yang dialami orang Bali dalam hal investasi adalah surutnya pariwisata Bali beberapa tahun terakhir ini dan tidak adanya keahlian untuk melakukan investasi di bidang di luar pariwisata. Alternatif terakhir adalah dengan membelanjakan uang yang anda miliki untuk barang-barang konsumsi seperti TV layar lebar, mobil mewah, dan lain sebagainya. Solusi untuk masalah ini bukanlah dengan cara menangkal globalisasi, akan tetapi dengan menggalakkan investasi di bidang non-pariwisata.

Selama beberapa tahun terakhir ini, penulis berusaha menghimpun dana dan tenaga untuk menuntaskan kegiatan komputerisasi Aksara Bali. Hasil dari kegiatan menghimpun dana di Bali sangat mengecewakan. Pemerintah lebih senang mengalokasikan anggaran untuk kegiatan-kegiatan studi banding atau untuk melakukan upacara keagamaan, padahal kebutuhan untuk komputerisasi Aksara Bali tidaklah besar. Pendanaan akhirnya didapat dari kemurahan hati pihak asing, yaitu UNESCO dan University of California. Kebutuhan untuk programmer yang memiliki kemampuan untuk menulis program Aksara Bali juga sulit didapat, sampai akhirnya penulis merekrut dua mahasiswa untuk ITB, yang notabene bukan orang Bali, untuk melakukan implementasi. Kesimpulan yang penulis ambil dari pengalaman ini adalah bahwa lunturnya nilai-nilai budaya Bali bukanlah disebabkan oleh pengaruh globalisasi ataupun rusaknya moral generasi muda seperti yang sering didengung-dengungkan sebelumnya, akan tetapi lebih karena bobroknya sistem pendidikan di Bali dan kurangnya visi dari pemerintah Bali terhadap pengembangan budaya di masa depan.
Era globalisasi telah datang, dan tidak ada satu kekuatan pun yang mampu menghadangnya. Mari kita mulai menyikapi tantangan yang ada di depan mata ini dengan cerdas, bukan dengan sikap pasrah dan bukan juga dengan pandangan yang negatif terhadap globalisasi. Justru mereka yang bimbang –separuh menerima dan separuh menolak- yang akan digilas oleh dampak negatif dari globalisasi.

Continue...

Rabu, 16 Juli 2008

Green Computing Solusi Penghematan Energi

By Bobby dkk

Green Computing. Sebagian besar penggila komputer pasti pernah dengar konsep ini. Tapi pengguna awam dan pengguna akhir biasanya malah ga ngeh sama sekali. Apa sih yang dimaksud dengan Green Computing??? Green Computing dalam bahasa gampang ditelaah adalah “Komputasi Ramah Lingkungan Dengan Daya Rendah”.

HIMBAUAN PEMERINTAH melalui perusahaan listrik negaranya untuk menghemat penggunaan daya listrik, sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia. Jauh sebelum “krisis energi” yang dialami, hingga sempat menyebabkan pemadaman secara bergilir, beberapa negara juga sudah menerapkan hal yang sama. Hemat listrik! Gunakan produk dalam negeri, negara yang untung *slogan Pertamina, kagak ada artinya bos kalo konsumsi daya kita aja besar banget. Setiap komputer berbasis Pentium D saja mengkonsumsi daya (CPU only) sampai dengan 230 Watt.. nah pertanyaannya Ping Piro mas. Coba masuk ke server room-server room instalasi besar kita, matiin AC barang 1 jam, kalo anda ga jadi telor rebus. Matiin semua lampu di siang hari bisa kan, penghematan energi bisa di lakukan dari hal yang kecil dahulu menuju hal yang besar.


Namun di balik itu semua, setidaknya hal ini membuat pengguna listrik, tidak terkecuali kalangan TI, juga sebaiknya mulai memikirkannya. Ini berlaku baik untuk kalangan industri, hingga kalangan personal sebagai pengguna PC. Mulailah penghematan dari sekarang

Perkembangan Hardware

Gerakan Green IT juga menjadi salah satu parameter yang digunakan produsen dalam mengembangkan produknya. Berikut beberapa contohnya.

Peralihan penggunaan solid state drive menggantikan harddisk sebagai solusi storage. Penyimpanan data pada fash memory seperti pada solid state disk mengurangi konsumsi daya untuk memutar data platter dengan motor spindle pada harddisk.
LCD monitor juga mengalami perkembangan yang juga menuju pengembangan dukungan gerakan Green IT. Kebanyakan LCD monitor terdahulu masih menggu-nakan sumber cahaya forescent, sebagai backlit. Sedangkan, LCD display terbaru menggantikannya dengan menerapkan penggunaan light-emitting diodes (LED) dalam susunan array. Ini tentunya akan mengurangi konsumsi daya dibandingkan dengan teknologi yang digunakan LCD monitor terdahulu.

Perkembangan pada produk power supply unit (PSU) juga mendukung hal ini. Kebanyakan PSU terdahulu hanya memiliki tingkat efsiensi tidak lebih dari 70%. Namun, sekarang hal ini jauh membaik. Beberapa merek PSU ternama berlomba-lomba untuk menghadirkan PSU dengan tingkat efsiensi yang lebih baik. Sebuah setifkasi 80 PLUS adalah sertif kasi yang diberikan kepada produk PSU dengan efsiensi di atas 80%. Sertif kasi Energy Star 4.0, yang diperuntukkan untuk sebuah PC desktop, juga mensyaratkan penggunaan PSU dengan tingkat esiensi di atas 80%.

Perlu Diperhatikan

Sebagian menjanjikan penurunan konsumsi daya yang cukup signifikan. Tentunya, bagi kami dan sebagian besar pembaca setia, lebih tertarik dengan bagaimana dalam implementasi di penggunaan sehari-hari. Komponen apa saja yang diperlukan dan syarat-syarat lain agar penghematan itu bisa benar-benar dirasakan.

Hasil dari penghematan tersebut juga akan kita rasakan dimasa mendatang... Krisis energi bukan membuat kita menjadi krisis moral.. Perubahan harus di mulai dari diri kita sendiri. Jangan meminta orang lain untuk berubah jika kita belum berubah

Continue...

Senin, 14 Juli 2008

How To Become A Hacker Part 2



There are basically five kinds of things you can do to be respected by hackers:
1. Write open-source software
The first (the most central and most traditional) is to write programs that other hackers think are fun or useful, and give the program sources away to the whole hacker culture to use.
(We used to call these works “free software”, but this confused too many people who weren't sure exactly what “free” was supposed to mean. Most of us now prefer the term “open-source” software).
Hackerdom's most revered demigods are people who have written large, capable programs that met a widespread need and given them away, so that now everyone uses them.
But there's a bit of a fine historical point here. While hackers have always looked up to the open-source developers among them as our community's hardest core, before the mid-1990s most hackers most of the time worked on closed source. This was still true when I wrote the first version of this HOWTO in 1996; it took the mainstreaming of open-source software after 1997 to change things. Today, "the hacker community" and "open-source developers" are two descriptions for what is essentially the same culture and population — but it is worth remembering that this was not always so.
2. Help test and debug open-source software
They also serve who stand and debug open-source software. In this imperfect world, we will inevitably spend most of our software development time in the debugging phase. That's why any open-source author who's thinking will tell you that good beta-testers (who know how to describe symptoms clearly, localize problems well, can tolerate bugs in a quickie release, and are willing to apply a few simple diagnostic routines) are worth their weight in rubies. Even one of these can make the difference between a debugging phase that's a protracted, exhausting nightmare and one that's merely a salutary nuisance.
If you're a newbie, try to find a program under development that you're interested in and be a good beta-tester. There's a natural progression from helping test programs to helping debug them to helping modify them. You'll learn a lot this way, and generate good karma with people who will help you later on.
3. Publish useful information
Another good thing is to collect and filter useful and interesting information into web pages or documents like Frequently Asked Questions (FAQ) lists, and make those generally available.
Maintainers of major technical FAQs get almost as much respect as open-source authors.
4. Help keep the infrastructure working
The hacker culture (and the engineering development of the Internet, for that matter) is run by volunteers. There's a lot of necessary but unglamorous work that needs done to keep it going — administering mailing lists, moderating newsgroups, maintaining large software archive sites, developing RFCs and other technical standards.
People who do this sort of thing well get a lot of respect, because everybody knows these jobs are huge time sinks and not as much fun as playing with code. Doing them shows dedication.
5. Serve the hacker culture itself
Finally, you can serve and propagate the culture itself (by, for example, writing an accurate primer on how to become a hacker :-)). This is not something you'll be positioned to do until you've been around for while and become well-known for one of the first four things.
The hacker culture doesn't have leaders, exactly, but it does have culture heroes and tribal elders and historians and spokespeople. When you've been in the trenches long enough, you may grow into one of these. Beware: hackers distrust blatant ego in their tribal elders, so visibly reaching for this kind of fame is dangerous. Rather than striving for it, you have to sort of position yourself so it drops in your lap, and then be modest and gracious about your status.

The Hacker/Nerd Connection
Contrary to popular myth, you don't have to be a nerd to be a hacker. It does help, however, and many hackers are in fact nerds. Being something of a social outcast helps you stay concentrated on the really important things, like thinking and hacking.
For this reason, many hackers have adopted the label ‘geek’ as a badge of pride — it's a way of declaring their independence from normal social expectations (as well as a fondness for other things like science fiction and strategy games that often go with being a hacker). The term 'nerd' used to be used this way back in the 1990s, back when 'nerd' was a mild pejorative and 'geek' a rather harsher one; sometime after 2000 they switched places, at least in U.S. popular culture, and there is now even a significant geek-pride culture among people who aren't techies.
If you can manage to concentrate enough on hacking to be good at it and still have a life, that's fine. This is a lot easier today than it was when I was a newbie in the 1970s; mainstream culture is much friendlier to techno-nerds now. There are even growing numbers of people who realize that hackers are often high-quality lover and spouse material.
If you're attracted to hacking because you don't have a life, that's OK too — at least you won't have trouble concentrating. Maybe you'll get a life later on.

Points For Style
Again, to be a hacker, you have to enter the hacker mindset. There are some things you can do when you're not at a computer that seem to help. They're not substitutes for hacking (nothing is) but many hackers do them, and feel that they connect in some basic way with the essence of hacking.
Learn to write your native language well. Though it's a common stereotype that programmers can't write, a surprising number of hackers (including all the most accomplished ones I know of) are very able writers.
Read science fiction. Go to science fiction conventions (a good way to meet hackers and proto-hackers).
Train in a martial-arts form. The kind of mental discipline required for martial arts seems to be similar in important ways to what hackers do. The most popular forms among hackers are definitely Asian empty-hand arts such as Tae Kwon Do, various forms of Karate, Kung Fu, Aikido, or Ju Jitsu. Western fencing and Asian sword arts also have visible followings. In places where it's legal, pistol shooting has been rising in popularity since the late 1990s. The most hackerly martial arts are those which emphasize mental discipline, relaxed awareness, and control, rather than raw strength, athleticism, or physical toughness.
Study an actual meditation discipline. The perennial favorite among hackers is Zen (importantly, it is possible to benefit from Zen without acquiring a religion or discarding one you already have). Other styles may work as well, but be careful to choose one that doesn't require you to believe crazy things.
Develop an analytical ear for music. Learn to appreciate peculiar kinds of music. Learn to play some musical instrument well, or how to sing.
Develop your appreciation of puns and wordplay.
The more of these things you already do, the more likely it is that you are natural hacker material. Why these things in particular is not completely clear, but they're connected with a mix of left- and right-brain skills that seems to be important; hackers need to be able to both reason logically and step outside the apparent logic of a problem at a moment's notice.
Work as intensely as you play and play as intensely as you work. For true hackers, the boundaries between "play", "work", "science" and "art" all tend to disappear, or to merge into a high-level creative playfulness. Also, don't be content with a narrow range of skills. Though most hackers self-describe as programmers, they are very likely to be more than competent in several related skills — system administration, web design, and PC hardware troubleshooting are common ones. A hacker who's a system administrator, on the other hand, is likely to be quite skilled at script programming and web design. Hackers don't do things by halves; if they invest in a skill at all, they tend to get very good at it.
Finally, a few things not to do.
Don't use a silly, grandiose user ID or screen name.
Don't get in flame wars on Usenet (or anywhere else).
Don't call yourself a ‘cyberpunk’, and don't waste your time on anybody who does.
Don't post or email writing that's full of spelling errors and bad grammar.
The only reputation you'll make doing any of these things is as a twit. Hackers have long memories — it could take you years to live your early blunders down enough to be accepted.
The problem with screen names or handles deserves some amplification. Concealing your identity behind a handle is a juvenile and silly behavior characteristic of crackers, warez d00dz, and other lower life forms. Hackers don't do this; they're proud of what they do and want it associated with their real names. So if you have a handle, drop it. In the hacker culture it will only mark you as a loser.

Other Resources
Paul Graham has written an essay called Great Hackers, and another on Undergraduation, in which he speaks much wisdom.
Peter Seebach maintains an excellent Hacker FAQ for managers who don't understand how to deal with hackers.
There is a document called How To Be A Programmer that is an excellent complement to this one. It has valuable advice not just about coding and skillsets, but about how to function on a programming team.
I have also written A Brief History Of Hackerdom.
I have written a paper, The Cathedral and the Bazaar, which explains a lot about how the Linux and open-source cultures work. I have addressed this topic even more directly in its sequel Homesteading the Noosphere.
Rick Moen has written an excellent document on how to run a Linux user group.
Rick Moen and I have collaborated on another document on How To Ask Smart Questions. This will help you seek assistance in a way that makes it more likely that you will actually get it.
If you need instruction in the basics of how personal computers, Unix, and the Internet work, see The Unix and Internet Fundamentals HOWTO.
When you release software or write patches for software, try to follow the guidelines in the Software Release Practice HOWTO.
If you enjoyed the Zen poem, you might also like Rootless Root: The Unix Koans of Master Foo.



Continue...